NVL vs CB150R, “seberapa penting fanatisme kalian?”
Sangat menarik melihat dan mengupas polah temen2 yang galau milih suatu produk kendaraan motor roda 2, terkhusus dengan keluarnya dua varian fenomenal yang awal sampai penggalian detail spek dan performa pasca peluncurn saat ini tidak lepas dari kegaduhan dan santer pemberitaan; Yamaha NVL dan Honda CB150R. bagi kita otolovers, tentu tidak memungkiri bagaimana secara antusias kita senantiasa mantengin berita, gambar demi gambar dan detail info2 diberbagai media(terutama yang update warungnya bang taufik, iwb, ridertua, dll) demi memperoleh kepastian yang mana motor yang sesuai dengan “selera” kita.
Di awal kemunculan NVL dengan plat di jidat yang banyak menuai cibiran karena katanya “mengurangi estetika” atau sama halnya dengan CB150R yang kemarin ditemukan karat pada rangka trellis yang dibanggakan. Perang “fanboy” pun sangat meriah, comment war dan bom spam ditambah dengan beberapa provokator dari kedua belah pihak yang bagi saya “fanatiknya kebablasan”. Sampai titik kulminasinya dari beberapa pemilik lapak sendiri terpaksa membersihkan sampah2 yang tiada manfaat. Sebuah hal yang aneh bagi saya, ketika kita mengagungkan sebuah hal yang tiada bisa memberikan manfaat dan maslahat dengan secara langsung ataupun tidak. (Padahal kita yang muslim banyak yang tidak sefanatik tadi ibadahnya, nah lo?)
Dalam artikel ini, sedikit saya hanya ingin menanggapi dan memberikan perspektif pribadi mengenai fenomena diatas.
Pertama, tinjauan filosofis dari sebuah kendaraan bermotor adalah sebagai alat transportasi penunjang mobilitas. Terlepas dari banyaknya model dan orientasi pemilik yang ingin menunjukkan prestise, performa, atau sekedar hobi. Kenyataannya semua kembali pada landasan filosofis tadi. Kesan wah, bagi saya hanya bagi mereka yang bermental kagetan karena sebaik apapun motor punya sisi “kurang”.
Kedua, komparasi motor dengan beda karakter otomatis tidak bisa linier dengan hasil yang diperoleh, yang berarti masing2 mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri2. Karakter` overstroke yang didesain untuk memperoleh torsi tentu berbeda dengan karakter overbore yang memang diarahin buat speed. gak bakal selesai debat kusirnya, gak jadi sebuah diskusi produktif dengan saling memberi informasi dan kritik positif yang ada juga nyinyir, saling ejek dan bangga pada label2 yang padahal kita gak dapet apa2. Sebuah trend budaya yang bagi kita sebagai masyarakat yang cerdas harus bisa memilah dan mengontrol diri,
Ketiga, masalah selera jelas urusan pribadi meskipun dibangun dari input sharing informasi dan pengalaman. Adalah aneh jika kita mengklaim produk yang kita sukai paling canggih, paling irit, paling bla….bla….bla…..karena kembali, semua orang mempunyai value berbeda dalam memandang sebuah produk. Bisa dari model, spesifikasi, efisiensi, fungsionalitas dll. Yang intinya selain selera juga disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan calon pemilik kendaraan. (Yang sampai saat ini masih seneng claiming berarti SALES)
Keempat, kenyataan produk yang diperdebatkan juga “tidak begitu” prestisius, dalam artian banyak yang memiliki dan terjangaku. Sederhananya, debat yang selama ini berjalan hanya merupakan pandangan2 sempit dari gengsi dan masivitas massa. Tidak mewakili sebagai konsumen yang betul2 cerdas dan sadar dari pemilihan suatu produk yang dibuat (bukan sok). Misal kalian setelah beli salah satu dari kedua motor tadi apakah akan terus psywar cuap2 ini loh motor gue, narsis dan gak etis. Terlalu sia2 pikiran kita kalo hanya buat nyurahin pada sebuah hal yang gak begitu substansial. lantas apa yang dicari?
Kelima, pilihan ada pada kalian guys. Jadi pribadi yang merdeka, gak kemakan comment war, mo yang beli NVL monggo, CB150R juga boleh, yang penting tetep jaga spirit of solider-nya. Saya pikir duduk bersama dengan keberagaman itu lebih indah dan konstrktif. “setiap masa ada ego yang memuncak, maka aktualisasikan ke hal2 yang positif”. Itu dulu, kesempurnaan hanya milik ALLAH SWT. Salam,
#pict by motorplus arship

test,
Januari 18, 2013 pada 4:30 am
(Yang sampai
saat ini masih seneng claiming
berarti SALES)!!!
setuju banget!!
Januari 18, 2013 pada 4:43 am
artikel ok
Januari 18, 2013 pada 3:20 pm
Tau tuh sales ma fanboy ngrusuh mulu
Januari 19, 2013 pada 1:45 am
hahaha, ketika independensi terbeli fanatisme buta, maka lahirlah makhluk2 kerdil semacam fansboy. yang bangga pada label2, tanpa tahu substansinya. semoga kita beda, proporsional, menempatkan sesuatu secara pas. salam bikers indonesia
Januari 19, 2013 pada 1:55 am
kebanyakan sih sales yang seneng flamming,kalo pengguna gak askan sefanatik itu,apalagi yang ngerti mesin.pasti sudah tau kurang lebihnya
Januari 19, 2013 pada 4:06 am
tugas kita yang memberi pencerdasan, salam bikers indonesia
Januari 19, 2013 pada 4:36 am
akur.bro
Januari 19, 2013 pada 10:02 am
itulah harapan kita,
Januari 19, 2013 pada 11:24 am
kagak ada FBH en FBY gak rame broooo secara kagak langsung juga buka aib produk yg mereka bela :p
Januari 19, 2013 pada 11:46 am
hahaha, bisa aja. bagi sebagian orang mungkin iya, tapi bagi saya pribadi dan yang se-felling dengan saya, menjadikan kekurangan suatu produk atau seseorang sebagai bahan guyonan itu bukan sebuah hal yang bersifat ksatria. ada tatakrama menyampaikan kritik atau untuk memperoleh informasi. salam bikers indonesia.
Januari 19, 2013 pada 11:56 am
setuju bro…sayangnya para FB masi berpikiran picik…bukannya saling memberikan masukan justru malah saling menjatuhkan padahal yg paling dirugikan ya para konsumen
Januari 19, 2013 pada 4:45 pm
right, tugas kita yang memberi pencerdasan.
Januari 19, 2013 pada 4:57 pm
Mantap…. be smart customer… jangan cuma jadi korban iklan …
Januari 20, 2013 pada 3:05 pm
right, syukur2 kita yang megang mainstream pasar. ngarahin biar masyarakat gak terbodohi dengan sebuah citra dan produsen bener2 bikin produk yang berkualitas serta terjangkau. salam bikers indonesia
Januari 20, 2013 pada 3:16 pm
kualitas menentukan kesetiaan
kalo emang lebih bagus, kenapa ga?
Januari 31, 2013 pada 3:53 am
asal gak kebablasan,
Februari 1, 2013 pada 12:14 am
semua nya hebatlah cuma klo sales harus mengangkat nama baik prodak sendiri, secara tdk langsung prodak lain tersingkirkan walaupun tdk sesuai kenyataannya, individu masing2lah yg bisa menilai mana yg terbaik
Februari 16, 2013 pada 8:05 pm